Medan, AFI FUSI UINSU – Direktur Pusat Kajian Politik dan Pemerintahan (Puskappol) FUSI UIN Sumatera Utara, Dr. Aminuddin, S.Sos., M.A., C.IP., menghadirkan praktisi TNI Angkatan Udara dari Lanud Soewondo, Muharmansyah Nasution, sebagai dosen tamu dalam perkuliahan mata kuliah Pancasila pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI), UIN Sumatera Utara, Medan.
Kegiatan perkuliahan tersebut mengangkat tema “Filsafat Pancasila, Wawasan Kebangsaan, dan Cinta Tanah Air”. Pembahasan ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memahami Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, tetapi juga sebagai landasan filosofis yang relevan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kehadiran Muharmansyah Nasution sebagai praktisi TNI AU memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas perspektif melalui pertemuan antara kajian filosofis di ruang akademik dan pengalaman praktis dalam lingkungan pertahanan negara.
Dalam konteks pendidikan tinggi, pembelajaran Pancasila tidak cukup berhenti pada pemahaman konseptual dan hafalan nilai-nilai dasar negara. Mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan untuk menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan realitas sosial, tantangan kebangsaan, serta tanggung jawab warga negara dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Antusiasme Mahasiswa dan Kebaruan Perspektif Pembelajaran
Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam menunjukkan antusiasme dalam mengikuti pembahasan. Interaksi selama perkuliahan membuka ruang bagi mahasiswa untuk menggali pemahaman yang lebih luas mengenai hubungan antara filsafat Pancasila, kesadaran kebangsaan, nasionalisme, dan pengabdian kepada tanah air.
Salah satu hal menarik dari perkuliahan ini adalah munculnya novelty atau kebaruan perspektif dalam memahami materi. Pancasila tidak semata-mata dipelajari sebagai kumpulan sila yang bersifat normatif, tetapi juga didekati melalui perspektif praktisi yang berkaitan dengan pertahanan negara, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada bangsa.
Pendekatan tersebut memperkaya proses pembelajaran karena mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mempertemukan pemikiran filosofis dengan pengalaman praktis. Dengan demikian, wawasan kebangsaan dapat dipahami bukan hanya sebagai pengetahuan tentang identitas nasional, melainkan juga sebagai kesadaran yang menuntut sikap dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, pembahasan ini juga membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara nilai-nilai Pancasila, kehidupan beragama, etika sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman. Perspektif tersebut penting dalam membangun pemahaman kebangsaan yang inklusif tanpa mengabaikan kedalaman kajian filosofis dan keagamaan.
Menghubungkan Filsafat dengan Praktik Kebangsaan
Inisiatif Dr. Aminuddin menghadirkan praktisi dari lingkungan TNI AU mencerminkan upaya memperluas metode pembelajaran melalui dialog lintas bidang. Kolaborasi antara akademisi dan praktisi diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual serta mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap persoalan kebangsaan.
Filsafat Pancasila, dalam hal ini, menjadi titik temu antara refleksi tentang nilai, pemahaman terhadap kehidupan bernegara, dan praktik pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, wawasan kebangsaan dan cinta tanah air menjadi tema yang dapat dikaji secara lebih mendalam melalui pengalaman nyata, pemikiran kritis, dan diskusi akademik.
Kegiatan dosen tamu ini juga menegaskan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi turut membangun kesadaran intelektual, tanggung jawab sosial, dan komitmen kebangsaan mahasiswa.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan pemahaman Pancasila yang lebih reflektif dan aplikatif. Antusiasme yang muncul selama perkuliahan menjadi modal untuk membangun ruang akademik yang dialogis, terbuka, dan relevan dengan dinamika kehidupan bangsa.
Pada akhirnya, pembelajaran Pancasila di perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti sebagai materi perkuliahan, melainkan tumbuh menjadi kesadaran filosofis yang membimbing sikap, pemikiran, dan tindakan mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
